Rabu, 25 Februari 2009


Para peserta FGD PASTI

Bencana atau hanya fenomena alam?

Disarikan dari FGD PASTI*


Gempa bumi yang menimpa DIY telah 1000 hari terlewatkan, namun masih banyak kejadian-kejadian alam yang menjadi bencana di Indonesia. Misalnya banjir di Jakarta, gempa di Sangihe Talaud, longsor di beberapa daerah. Namun benarkah semua kejadian/fenomena alam adalah bencana?
Daerah Rawa Buaya (Jakarta) rutin tergenang air setiap tahun bahkan ketika musim penghujan, air masuk kedalam rumah dua kali sehari (pada siang hari surut). Warga menganggap hal tersebut sudah menjadi hal yang biasa, jika ketinggian air tidak lebih dari 50 cm belum dianggap sebagai banjir. Warga Rawa Buaya sudah mempersiapkan dirinya dengan cara membuat rumah tingkat serta ketika musim hujan datang barang-barang berharga disimpan di lantai atas. Bagi sebagian warga miskin di Jakarta, banjir merupakan lahan untuk mengais rejeki. Mereka membantu mendorong mobil yang macet.
Gempa Bumi di Jepang sangat sering terjadi, namun korbannya sangat sedikit. Hal ini disebabkan warga sudah mempersiapkan diri secara baik. Bangunan dibangun sesuai dengan aturan bangunan lebih aman gempa (BLAG) serta sesuai dengan aturan tata kota yang ada. Sehingga ketika terjadi gempa, warga mempunyai kesempatan untuk mengamankan diri menuju ke ruang aman yang telah disediakan.
Dari cerita diatas dapat disimpulkan bahwa fenomena alam dapat berubah menjadi bencana jika komunitas/masyarakat tidak mempunyai kesiapsiagaan yang cukup. Kesiapsiagaan suatu komunitas dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu :
1. DRA/Disaster Risk Analysis
2. BHS/Basic Human Services
3. CD/Community Development
DRA berhubungan dengan analisa resiko bencana yang terjadi di sebuah daerah. DRA meliputi sejarah terjadinya bencana serta akibat yang ditimbulkan (korban, kerusakan dan dampak yang ditimbulkan). Data tersebut digunakan untuk menentukan tingkat ancaman bencana suatu daerah.
BHS adalah kebutuhan–kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi misal kebutuhan primer (sandang, pangan dan papan), kesehatan, pendidikan dan pekerjaan (ekonomi). Kebutuhan dasar tersebut merupakan pondasi dari kesiapsiagaan komunitas.
CD berhubungan dengan kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan komunitas untuk meningkatkan pengetahuan khususnya dalam hal kebencanaan sehingga dapat menurunkan dampak yang disebabkan oleh bencana.
Ketiga hal diatas dapat digunakan untuk mengukur Resiko Bencana suatu daerah. BHS dan CD mempengaruhi kapasitas komunitas untuk menghadapi kejadian-kejadian alam. Resiko Bencana merupakan perkalian antara Ancaman dan Kerentanan serta berbanding terbalik dengan Kapasitas Komunitas.


RESIKO BENCANA = ANCAMAN X KERENTANAN
KAPASITAS KOMUNITAS

Resiko bencana dapat dikurangi dengan cara menurunkan tingkat kerentanan serta meningkatkan kapasitas komunitas. Pada umumnya tingkat ancaman di suatu daerah, besarnya tidak berubah (tetap/statis). Jika tingkat kerentanan rendah dan tingkat kapasitas komunitas tinggi atau dengan kata lain kesiapsiagaan komunitas tinggi, maka kejadian alam tidak akan berubah menjadi sebuah bencana. Banjir bagi warga Rawa Buaya hanya dianggap sebagai kejadian melimpahnya air, sedangkan gempa di Jepang hanya dianggap sebagai kejadian pergeseran lempeng bumi.
Dari ulasan diatas semoga dapat membuka paradigma kita untuk memahami bahwa tidak semua kejadian alam berujung sebagai bencana, tergantung tingkat kesiapsiagaan kita untuk menghadapi kejadian tersebut. Pertanyaannya adalah sudah siap dan siagakah kita?
*FGD PASTI (Preparedness Assessment Tools for Indonesia) diadakan oleh HFI, MDMC, ISDR dan UNESCO pada tanggal 19-20 Februari 2009

Selasa, 11 November 2008

Cleret Tahun




Cleret Tahun/puting beliung merupakan sebuah angin yang terbentuk karena perbedaan suhu yang sangat besar. Biasanya terjadi pada siang menjelang sore hari. Angin tersebut mempunyai kekuatan yang sangat besar hingga dapat meluluh lantakkan lokasi yang dilewatinya. Salah satu contohnya adalah kejadian Puting beliung yang terjadi pada tanggal 7 November 2008 di Kampus UGM Yogyakarta. Sebagian besar pohon yang tumbuh di seputar boulevard UGM patah dan tercabut dari tanah. Foto diatas dapat menggambarkan kekuatan puting beliung. Lihatlah perbandingan antara pohon beringin yang tumbang dengan seorang laki-laki yang berdiri didekatnya. Sedangkan foto yang lainnya terjadi di depan Kantor Pos UGM. Berhati-hatilah jika di dekat anda terbentuk awan hitam yang bergulung-gulung, segeralah mencari tempat berlindung di bangunan/gedung yang kokoh dan jauhilah pepohonan.

Kamis, 28 Agustus 2008

Tugu Jogja
Inilah salah satu monumen yang sangat terkenal di Yogyakarta. Monumen tersebut dinamakan Tugu Yogyakarta. Tugu mejadi poros utama kota Yogyakarta

Stasiun Lempuyangan










Gambar ini merupakan situasi di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta pada awal bulan Agustus 2008. Foto memperlihatkan kenyamanan dan kebersihan dari stasiun yang masih terjaga. Namun sebentar lagi kondisi tersebut akan berubah menjadi sangat ramai di setiap sudut dan disertai dengan bertambahnya sampah yang mengotori lokasi tersebut. Itu semua disebabkan adanya lonjakan penumpang yang sangat banyak ketika beberapa hari menjelang dan sesudah lebaran. Mari kita tingkatkan rasa empati kita untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan di manapun dan kapanpun kita berada.